Isra Mi’raj bukan sekadar narasi sejarah tentang perjalanan melintasi dimensi, melainkan sebuah madrasah bagi umat Islam untuk memetik pelajaran hidup. Di balik kemegahan mukjizat tersebut, tersimpan hikmah mendalam yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tantangan.

Optimisme di Tengah Kesulitan

Salah satu hikmah terbesar Isra Mi’raj adalah pesan tentang harapan. Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah SAW berada di titik terendah secara emosional (Tahun Kesedihan). Allah memberikan hadiah perjalanan ini untuk menunjukkan bahwa setelah kesulitan yang menghimpit, selalu ada kemuliaan dan solusi yang luas. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa; seberat apa pun masalah di dunia, kekuasaan Tuhan jauh lebih besar dari masalah tersebut.

Sholat sebagai Media "Kenaikan" Ruhani

Jika Nabi Muhammad SAW melakukan Mi’raj secara fisik ke Sidratul Muntaha, maka umatnya diberikan sarana untuk "Mi’raj" secara spiritual melalui sholat. Hikmah utama dari perintah sholat lima waktu adalah agar manusia memiliki waktu untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menghadap Sang Pencipta. Sholat adalah jembatan komunikasi yang memungkinkan seorang hamba untuk melepaskan beban batinnya dan meraih ketenangan jiwa.

Pentingnya Kebersihan Hati (Tazkiyatun Nafs)

Dalam sirah disebutkan bahwa sebelum memulai perjalanan, dada Rasulullah SAW dibelah oleh Malaikat Jibril untuk disucikan hatinya dengan air Zamzam. Hikmah ini menegaskan bahwa untuk menuju "puncak" kesuksesan atau mendekat kepada Allah, seseorang harus memiliki hati yang bersih dari penyakit hati seperti iri, sombong, dan dendam. Integritas dan kesucian hati adalah modal utama dalam mengemban amanah besar.

Keseimbangan Antara Akal dan Wahyu

Isra Mi’raj menantang manusia untuk mengakui keterbatasan akal di hadapan keagungan Tuhan. Peristiwa ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang tasdiq (membenarkan kebenaran) seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di era informasi ini, hikmah tersebut mengajak kita untuk tetap memiliki prinsip iman yang kokoh, sehingga tidak mudah goyah oleh logika-logika yang menjauhkan diri dari nilai moral dan agama.

Ujian Kesetiaan dan Kualitas Diri

Setelah peristiwa tersebut terjadi, masyarakat Mekkah terbelah: ada yang semakin percaya, dan ada yang murtad karena menganggapnya tidak masuk akal. Ini adalah hikmah tentang seleksi kualitas. Ujian dalam hidup seringkali berfungsi untuk memisahkan mana individu yang benar-benar berkomitmen dan mana yang hanya ikut-ikutan. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kejujuran pada kebenaran memerlukan keberanian, meskipun harus berbeda dengan arus utama.