pelajarnuparang.or.id, Magetan - Dalam rangka memperkuat pemahaman keagamaan pelajar putri, PAC
IPPNU Parang menyelenggarakan kegiatan Nahdlatun Nisa’ bertema “Kajian
Fiqih Wanita: Menata Ibadah, Menjaga Fitrah.” Acara yang berlangsung pada
Sabtu, 14 Februari 2026 ini bertempat di TPQ Al-Husna Bungkuk dan dihadiri oleh
peserta dari berbagai ranting serta perwakilan pelajar putri di wilayah Parang.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar organisasi dalam
menjawab kebutuhan nyata di tengah masyarakat, khususnya berkaitan dengan
persoalan darah yang keluar dari tubuh perempuan. Tema tersebut diangkat bukan
tanpa alasan. Dalam praktik sehari-hari, masih banyak muslimah yang diliputi
keraguan ketika menentukan status dirinya apakah sedang haid, suci, atau
mengalami kondisi lain yang semuanya berimplikasi langsung pada keabsahan
ibadah.
Melalui forum Nahdlatun Nisa’, para peserta diajak untuk melihat
bahwa pemahaman mahâidh bukan sekadar pelengkap pengetahuan, melainkan bagian
mendasar dari tanggung jawab pribadi seorang perempuan muslim. Ketepatan dalam
mengenali kondisi diri akan menghadirkan ketenangan, menghindarkan kebimbangan,
serta menjaga kualitas penghambaan kepada Allah.
Hadir sebagai pemateri, Sahabat Iim Noer Wachidah selaku Sekretaris
II PAC Fatayat NU Parang menyampaikan materi secara sistematis dan mudah
dipahami. Penjelasan dimulai dari pengenalan kategori darah,
batasan-batasannya, hingga bagaimana menyikapi situasi yang sering menimbulkan
kebingungan. Pemateri juga menekankan pentingnya merujuk pada pedoman ulama
agar praktik ibadah tidak didasarkan pada perkiraan atau kebiasaan semata.
Tidak hanya berupa penyampaian teori, sesi kajian turut dilengkapi
dengan pembahasan contoh kasus yang dekat dengan pengalaman remaja putri.
Metode ini membantu peserta memahami bahwa persoalan fiqih wanita hadir di
sekitar mereka dan membutuhkan perhatian serius. Suasana forum pun menjadi
hidup, peserta mengikuti setiap penjelasan dengan penuh konsentrasi dan
menunjukkan minat besar saat diberikan kesempatan berdiskusi.
Antusiasme tersebut menegaskan bahwa ruang belajar seperti ini
sangat dibutuhkan. Banyak peserta merasa mendapatkan pemahaman baru sekaligus
keberanian untuk lebih teliti terhadap kondisi dirinya sebelum melaksanakan
ibadah. Kesadaran inilah yang diharapkan mampu tumbuh dan menyebar, sehingga
para pelajar putri dapat menjadi penggerak literasi fiqih perempuan di
lingkungannya masing-masing.
Ke depan, program kajian fiqih wanita direncanakan akan terus berlanjut dan dikembangkan dalam bentuk pembelajaran yang lebih mendalam, agar semakin banyak pelajar putri yang mampu menata ibadahnya dengan benar dan menjaga fitrah kewanitaannya dengan penuh keyakinan.

0Komentar
Beri Komentar