Keberhasilan Islamisasi di Nusantara tidak lepas dari peran kolektif sembilan tokoh ulama besar yang memiliki pembagian tugas strategis, mulai dari urusan kenegaraan hingga pendekatan akar rumput.

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Sebagai pionir Wali Songo, beliau menggunakan pendekatan ekonomi dan pertanian. Beliau merangkul rakyat jelata dengan cara mengajarkan teknik bercocok tanam yang lebih efisien serta membuka pengobatan gratis. Sikapnya yang santun kepada masyarakat kasta rendah membuat Islam diterima sebagai agama yang membebaskan.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Beliau adalah arsitek pertama penyebaran Islam di Jawa yang membangun Pesantren Ampel Denta. Ajaran yang paling fenomenal adalah falsafah "Moh Limo" (tidak melakukan lima maksiat: main judi, minum khamar, mencuri, mengonsumsi narkoba, dan berzina), yang merupakan upaya memperbaiki moral masyarakat saat itu.

Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Putra Sunan Ampel ini dikenal sebagai seniman yang cerdas. Beliau mengganti nama-nama dewa dalam tradisi lama dengan nama-nama malaikat dan nabi. Salah satu peninggalannya adalah Suluk Wijil dan modifikasi instrumen gamelan agar berbunyi lebih meditatif dan islami.

Sunan Giri (Raden Paku)

Dikenal sebagai "Raja Bukit", beliau memiliki pengaruh besar bahkan hingga ke luar Pulau Jawa seperti Maluku. Sunan Giri menggunakan media permainan anak-anak dan lagu-lagu tradisional seperti Jamuran dan Cublak-cublak Suweng untuk menyisipkan nilai-nilai tauhid sejak dini.

Sunan Drajat (Raden Qasim)

Fokus dakwah beliau adalah kesejahteraan sosial. Beliau dikenal sangat dermawan dan memiliki empati tinggi terhadap anak yatim serta orang sakit. Ajaran terkenalnya adalah "Menehono teken marang wong kang wuto" (berilah tongkat pada orang buta), sebuah simbol bantuan nyata bagi mereka yang kesulitan.

Sunan Kalijaga (Raden Syahid)

Tokoh yang paling ikonik dalam hal akulturasi. Beliau menggunakan Wayang Kulit dan seni ukir sebagai sarana dakwah. Dengan memasukkan unsur keislaman ke dalam cerita Mahabarata dan Ramayana, masyarakat Jawa merasa tidak dipaksa untuk meninggalkan budayanya saat memeluk Islam.

Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)

Beliau memiliki pendekatan yang sangat menghargai toleransi beragama. Salah satu warisannya adalah melarang penyembelihan sapi di wilayah Kudus untuk menghormati umat Hindu. Arsitektur Menara Kudus yang menyerupai candi adalah bukti nyata dari dakwah persuasif beliau.

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Putra Sunan Kalijaga ini memilih berdakwah di daerah terpencil dan lereng gunung. Beliau lebih suka bergaul dengan rakyat jelata, nelayan, dan pedagang. Metodenya dikenal dengan istilah kursus keterampilan, di mana beliau mengajarkan cara bercocok tanam sambil menyisipkan ajaran agama.

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Beliau merupakan satu-satunya anggota Wali Songo yang juga menjabat sebagai raja (Sultan Cirebon). Strateginya adalah melalui jalur politik dan diplomasi. Beliau memperkuat kedudukan Islam di Jawa Barat sekaligus mengembangkan infrastruktur yang mendukung penyebaran agama secara masif.

Sumber Rujukan: Artikel ini disusun berdasarkan data sejarah dan ulasan dari kanal Sirah/Sejarah pada laman NU Online, yang mengulas tentang biografi tokoh-tokoh penyebar Islam di Nusantara secara otoritatif.