creatorfest.id Di era konsumerisme yang serba cepat ini, mengelola uang seringkali hanya
dianggap sebagai soal angka dan keuntungan. Namun, bagi seorang Muslim, harta
bukan sekadar alat tukar, melainkan amanah yang akan dimintai
pertanggungjawabannya. Keuangan Syariah hadir bukan untuk membatasi, melainkan
untuk menjaga agar harta yang kita miliki menjadi wasilah (perantara) datangnya
ketenangan dan keberkahan.
Fondasi Utama: Halal dan Thayyib
Langkah pertama dalam keuangan Islam bukanlah tentang menabung, melainkan
memastikan sumbernya. Prinsip Halal (boleh secara hukum agama) dan Thayyib
(baik, sehat, dan tidak merugikan) harus menjadi filter utama dalam mencari
nafkah. Harta yang diperoleh dari jalan yang haram seperti penipuan, judi, atau
bisnis yang merusak akan menghilangkan keberkahan dalam rumah tangga, meskipun
jumlahnya banyak.
Menjauhi Riba, Gharar, dan Maysir
Keuangan Islam berdiri tegak di atas larangan terhadap tiga hal krusial:
- Riba: Tambahan
yang disyaratkan dalam transaksi pinjam-meminjam (bunga bank
konvensional). Islam mendorong sistem bagi hasil (mudharabah) atau jual
beli (murabahah) sebagai alternatif.
- Gharar:
Ketidakpastian atau kejelasan yang ekstrem dalam kontrak (seperti membeli
ikan yang masih di dalam laut).
- Maysir: Segala
bentuk perjudian atau spekulasi yang tidak berdasar.
Prioritas Pengeluaran: Skala Prioritas
Islami
Dalam mengalokasikan uang, Islam mengajarkan urutan yang sangat logis:
- Kebutuhan Pokok
(Dharuriyyat): Sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
- Kewajiban
Sosial (Zakat): Ini adalah hak orang lain yang dititipkan di harta kita.
Zakat berfungsi mensucikan harta.
- Pelunasan
Hutang: Hutang adalah beban moral yang sangat berat dalam Islam.
Menyelesaikannya harus menjadi prioritas sebelum bersedekah sunnah.
- Tabungan dan
Investasi: Mempersiapkan masa depan untuk keluarga agar tidak menjadi
beban bagi orang lain.
Gaya Hidup Bersahaja (Tidak Israf)
Al-Qur'an mengingatkan kita untuk tidak Tabzir (boros) dan tidak pula
kikir. Keseimbangan adalah kunci. Keuangan yang syar’i adalah keuangan yang
memprioritaskan fungsi di atas gengsi. Membeli barang karena butuh adalah
ibadah, namun membeli barang hanya untuk pamer (riya) adalah kerugian finansial
sekaligus spiritual.
Investasi yang Beretika
Keuangan Syariah sangat mendorong investasi agar uang tidak berhenti di
satu tangan saja. Namun, instrumen investasinya harus sesuai syariat. Saat ini,
sudah banyak pilihan seperti Reksa Dana Syariah, Sukuk (Obligasi Syariah),
hingga investasi emas.
Mengelola keuangan secara Islami adalah tentang menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dengan menjauhi riba dan rajin berbagi, kita tidak hanya mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tetapi juga menjemput ridha Allah SWT.

0Komentar
Beri Komentar